TUSUK SATE PENYAMBUNG HIDUP

Pagi hari dengan udara yang sejuk seolah menyambut untuk melaksanakan pekerjaannya. Bau asap pembakaran, daging-daging yang telah ditusuk, saus kacang serta kertas bungkus adalah sahabat setiap hari untuk menyambung hidup keluarga. Tubuhnya agak tinggi dan kurus, rambutnya diikat kucir kuda serta kulitnya sawo matang kehitaman mencerminkan seorang yang hidupnya tidak mudah. Wajah sayunya lebih tua dibandingkan usia sebenarnya.

 

Nama aslinya adalah Maryam, tetapi karena dia sering berjualan sate setiap hari, maka ia sering dipanggil Bu Sate. Nasib membawa Bu Sate pada pekerjaan itu. Penjual sate adalah sebutan untuk pekerjaannya. Sebelum menjadi tukang sate, ia bekerja serabutan. Penghasilan setiap hari tidak tetap dan selalu kekurangan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

 

Kehidupan keluarga kecilnya masih menumpang di rumah mertua, karena pekerjaan yang tidak tetap maka penghasilan uang yang diperoleh hanya sedikit. Uangnya tidak cukup untuk membangun rumah sendiri. Kondisi rumah mertuanya pun tak jauh beda, penuh dengan kesederhanaan.

 

Di desa tempat tinggalnya, sudah menjadi suatu tradisi jika seseorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap maka jalan keluarnya adalah dengan pergi merantau. Harapannya adalah bisa merubah nasib dan menjadi sukses. Melihat dari tetangga sebelahnya yang sukses transmigrasi dan kini sudah menjadi juragan sawit yang terkenal, keinginan merantau itu semakin kuat.

 

Melalui sebuah travel agen, berangkatlah keluarga Bu Sate merantau ke Jawa, tepatnya di Jakarta. Akan tetapi belum genap tiga bulan berada di Ibu kota, ia harus kembali ke rumah. Tempatnya hidup di pinggiran Jakarta berdekatan langsung dengan penduduk asli Jakarta. Mereka tidak suka dengan kehadiran transmigran. Ketika malam, rumah-rumah para transmigran diganggu. Barang-barang seadanya diambil. Hidup yang diwarnai ancaman setiap hari itulah yang membuat keluarga Bu Sate kembali ke Madura.

 

Mimpi untuk sukses dan merubah masib sudah kandas. Kerugian semakin dirasakan oleh Bu Sate. Uang untuk biaya keberangkatan merantaunya tidaklah sedikit, belum kembali modal untuk menutupi biaya tersebut, ia sudah kembali lagi ke rumah tanpa hasil apapun.

Namun beberapa waktu setelah kejadian itu, Bu Sate beserta keluarga Kembali pergi transmigrasi ke jawa.

 

Dengan keyakinan akan memperoleh kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya, Bu Sate kali ini Kembali lagi ke pulau Jawa. Apakah Bu Sate Kembali lagi ke Jakarta? Jawabannya adalah Tidak.

 

Kali ini pilihan hidup Bu Sate tertuju pada sebuah kota yang dijuluki sebagai “Kota Pelajar” ya, kota itu adalah Yogyakarta.

Bersama dengan suami dan anak-anaknya, Bu Sate mulai pindah ke Yogyakarta dari Madura, kampung halamannya.

 

Ketika pertama kali datang ke Jogja, Bu Sate dan Keluarga sangat kesulitan untuk mencari pekerjaan. Namun kemudian ia bertemu dengan seorang teman sesama transmigran dari Madura yang menyarankan Bu Sate untuk berjualan sate. Pada awalnya Bu Sate seperti orang-orang lain, tidak mau menerima pekerjaan yang diusulkan oleh teman sesama transmigran. Malu rasanya bekerja seperti itu, pekerjaan yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.

 

Hidup dengan modal gengsi tidak akan kenyang, itu adalah nasehat dari temannya tersebut. Selama suatu pekerjaan halal dan dapat memenuhi kebutuhan keluarga, kenapa harus gengsi melakukannya. Melalui perbincangan dan nasehat-nasehat dengan temannya itu, akhirnya Bu Sate mau menekuni pekerjaan itu. Akan tetapi permasalahan muncul ketika usahanya tersebut tidak mempunyai modal. Teman nya dengan senang hati meminjamkan uangnya untuk modal pekerjaan baru Bu Sate tersebut.

 

Ibu dua anak ini menjadi pelopor penjual-penjual sate pada saat awal kedatangannya. Pada awalnya hanya Bu Sate yang berjualan sate keliling kampung. Namun saat ini, banyak orang-orang yang mengikuti jejak Bu Sate sebagai tukang sate.

Seperti halnya Bu Sate yang awalnya meremehkan pekerjaan barunya itu. Akan tetapi karena tidak ada pesaing pada awal kehadirannya, menjual sate sebagai pekerjaan yang diremehkan ini menjadi sesuatu yang sangat menjanjikan.

 

Hasil dari berjualan sate ditabung, penghasilan yang lumayan ini ditabung sedikit demi sedikit.

Meskipun rajin menjual sate, namun tidak semua hasil daripada dagangan Bu Sate terjual habis.

Ada juga waktu dimana Bu Sate tidak membawa penuh tusuk sate yang akan dijual dikarenakan takut mubadzir dan mengalami kerugian.

 

Dalam sehari, Bu Sate bisa memperoleh penghasilan sebesar 135.000 rupiah.

Jika rajin, maka dalam waktu 1 minggu Bu Sate mendapat kurang lebih 700.000 rupiah dari hasil berjualan sate. Biasanya Bu Sate berjualan sate sekitar dari jam setengah 6 pagi hingga jam 10 pagi, metode penjualannya pun terkadang keliling kampung, namun lebih sering berdiam di dekat lapak penjual jajanan pasar. Untuk jenis sate yang dijual oleh Bu Sate adalah sate ayam.

 

Bila hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Bu Sate terkadang mendapat pesanan lontong sate yang lumayan banyak. Pernah dalam sehari pada saat hari terakhir bulan suci Ramadhan, Bu Sate mendapat pesanan hampir 50 pesanan lontong dan 50 pesanan tusuk sate.

 

Semakin hari, pekerjaan ini bisa membuat perubahan pada kehidupan Bu Sate.  Terbukti dengan rumahnya yang baru serta suaminya yang telah memiliki gerobak untuk berjualan Mie Goreng dan Nasi Goreng yang tak pernah sepi pembeli. Dan di samping kanan rumah barunya terdapat toko kecil. Beberapa tahun menjalani pekerjaan sebagai tukang sate dan menjadi sukses tidak membuat Bu Sate lupa dengan Sang Pencipta. Tak lupa ia selalu bersyukur kepada yang telah memberinya rezeki yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Udara pagi yang sejuk dengan bau asap pembakaran sate kini diwarnai dengan senyum Bu Sate. Ini merupakan jalan rezekinya. Ditemani sepeda motor baru dari hasil menabung, Bu Sate kini berkeliling kampung dan pasar untuk menjalankan pekerjaannya. Tak ada lagi guratan-guratan tua di wajahnya. Senyum telah menghapus kesedihannya.

 

 

 

 

 

 

Penulis : Panji Hidayatullah H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pariwisata Yogyakarta Ditengah Pandemi Covid-19 Dan Era New Normal